Mengasihi: Gaya Hidup yang Mendatangkan Shalom
Refleksi Paskah tentang kebangkitan Kristus yang menyatakan kasih Allah lebih kuat dari maut, mengajar kita hidup dalam kasih, pengampunan, dan damai sejahtera (shalom).
Abstrak
Kebangkitan Kristus bukan hanya cerita lama yang kita ingat setiap tahun. Kubur yang kosong membawa pesan besar, “kasih Allah lebih kuat daripada maut”. Karena itu, bagi kita orang percaya, kasih bukan sekadar pilihan sesekali, tetapi menjadi gaya hidup setiap hari.
Kita Mengasihi karena Lebih Dulu Dikasihi
Kita bisa mengasihi bukan karena kita hebat, tetapi karena Allah sudah lebih dulu mengasihi kita. Alkitab berkata dalam 1Yohanes 4:19, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”
Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kasih Allah mengalahkan dosa dan permusuhan. Kasih itu memulihkan hubungan kita dengan Tuhan, dan juga memampukan kita untuk hidup berdamai dengan sesama.
Mengasihi Tanpa Syarat
Mengasihi sebagai gaya hidup berarti kita melakukannya kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja.
Kasih itu nyata dalam: tindakan, bukan hanya kata-kata; pengorbanan, bukan sekadar kenyamanan; mengasihi semua orang, bahkan mereka yang menyakiti kita; dan memberi pengampunan, karena kita pun sudah diampuni oleh Kristus.
Kasih sejati tidak memilih-milih. Kasih tetap mengalir, bahkan saat itu sulit.
Kasih Membawa Shalom
Ketika kita hidup dalam kasih, hasilnya adalah shalom—damai sejahtera yang sejati.
Shalom bukan hanya tidak ada masalah, tetapi hati yang tenang, hubungan yang dipulihkan, dan iman yang kuat.
Setelah bangkit, Yesus menyapa murid-murid-Nya dengan berkata, “Damai sejahtera bagimu.”
Kasih mengusir ketakutan dan menggantinya dengan damai yang melampaui akal. Amin!
Diambil dari khotbah Paskah: https://www.youtube.com/watch?v=ywGFLpJ87iU
Tags
Diskusi
Komentar