Kembali ke Semua Artikel
Anything's Possible
Renungan

Anything's Possible

Lukas 1:37-38

59

Belajar dari ketaatan Maria saat menerima panggilan Allah untuk melahirkan Sang Juru Selamat. Temukan makna berserah penuh pada rencana dan kuasa Tuhan.

Abstrak

Kata Kunci: renungan kristen, bagi Allah tidak ada yang mustahil, Lukas 1:37-38, ketaatan Maria, hamba Tuhan, malaikat Gabriel dan Maria, kelahiran Yesus Kristus, renungan Natal, penyerahan diri kepada Tuhan, Kejadian 18:14, janji Tuhan, iman kristen

“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:37-38)

Firman Tuhan di atas merujuk pada satu peristiwa penting yang dilatarbelakangi oleh dialog antara malaikat Gabriel dan Maria di sebuah kota di Galilea yang bernama Nazaret. Dialog inilah yang membawa kita pada peristiwa hadirnya seorang Juru Selamat.

Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh malaikat Gabriel? Ternyata Gabriel adalah utusan Allah (Luk. 1:26) yang menyampaikan pesan bahwa Maria dipilih Allah sebagai perantara bagi lahirnya Sang Juru Selamat, yaitu Yesus (Luk. 1:31). Jawaban Maria merupakan ungkapan penuh keyakinan bahwa ia menerima segala perkataan malaikat Gabriel. Hal itu menjadi bukti bahwa Maria tidak takut menghadapi segala risiko yang akan menimpanya kelak.

Maria dengan tegas berkata bahwa dia hanyalah seorang hamba. Kata hamba memiliki banyak sinonim dan secara hakikat berarti seseorang yang tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Inilah gambaran yang ingin disampaikan Maria kepada kita semua. Ketika Allah hendak memakai dirinya, Maria tidak menolak karena ia menyadari sepenuhnya bahwa hidupnya adalah kepunyaan Tuhan.

Perkataan malaikat Gabriel, “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil,” juga senada dengan tertulis dalam Kitab Kejadian 18:14, “Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?” Kisah tersebut dilatarbelakangi oleh peristiwa janji Allah kepada Abraham dan Sara. Ketika itu, Tuhan berbicara langsung kepada mereka bahwa pada tahun berikutnya, Sara akan mengandung. Kedua peristiwa ini memiliki kemiripan karena janji tersebut sama-sama ditujukan kepada seorang perempuan. Sara, pada masa tuanya, dipakai Tuhan untuk melahirkan Ishak sebagai anak perjanjian, sedangkan Maria, yang masih perawan, dipakai Tuhan untuk melahirkan Sang Anak Perjanjian.

Kalimat penutup yang disampaikan oleh malaikat Gabriel, “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil,” menurut pandangan saya memiliki dua makna. Pertama, peristiwa kehamilan Maria bukanlah hal yang mustahil bagi Allah, meskipun kehamilan itu terjadi tanpa persetubuhan dengan tunangannya, Yusuf. Allah sanggup melakukan apa saja bagi umat-Nya, termasuk melakukan perkara yang ajaib atas diri Maria. Kedua, kalimat tersebut mengandung makna mendalam bahwa Allah menyertai Maria. Artinya, ketika Allah memilih Maria dan melakukan hal yang mustahil pada saat itu, Allah juga akan terus melakukan perkara-perkara ajaib untuk menyertai Maria dalam menjalani keterpilihannya di masa mendatang.

Percayalah bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan umat pilihan-Nya (Ibr. 13:5), asalkan kita mau berserah dan berkata seperti Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan ... jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Tags

#renungan kristen #bagi Allah tidak ada yang mustahil #Lukas 1:37-38 #ketaatan Maria #hamba Tuhan #malaikat Gabriel dan Maria #kelahiran Yesus Kristus #renungan Natal #penyerahan diri kepada Tuhan #Kejadian 18:14 #janji Tuhan #iman kristen

Bagikan Artikel

Diskusi

Komentar

0
Hanya user yang sudah login yang dapat menulis komentar. Login

Artikel Terkait

Berkat untuk Pelayanan

Mari dukung pelayanan MPS GKRI untuk menjangkau lebih banyak jiwa.

106
Jemaat Lokal
28
Pos PI
25K+
Anggota Jemaat

Sebaran Jemaat Lokal

Jemaat Lokal

Mitra Pelayanan