Refleksi Kasih dalam Hening
Refleksi Sabtu Sunyi tentang keheningan, pergumulan hidup, dan kekuatan kasih Tuhan yang membawa pengampunan, pemulihan, dan harapan menuju kebangkitan.
Abstrak
Bayangkan sejenak sebuah suasana yang begitu sunyi. Langit terasa gelap, tanah terasa kering, dan pintu kubur tertutup rapat. Yesus telah wafat. Tidak ada lagi suara mukjizat, tidak ada gemuruh suara dari surga, dan tidak ada kepastian yang terlihat. Yang tersisa hanyalah keheningan yang mencekam—sebuah kesunyian yang tanpa suara.
Mungkin, jika kita jujur pada diri sendiri, hidup kita pun pernah atau sedang berada di titik itu. Sebuah masa yang kita sebut sebagai “Sabtu Sunyi”. Saat di mana doa-doa kita seolah memantul di langit-langit kamar dan tidak terjawab. Saat masa depan terlihat kabur dan dunia di luar sana terasa kacau balau oleh konflik, ketidakstabilan ekonomi, dan krisis yang tak kunjung usai. Kita mulai bertanya-tanya: “Tuhan, apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Dalam kehidupan, seringkali musuh terbesar kita bukanlah situasi dunia, melainkan ego kita sendiri. Ingatlah kisah dua sahabat karib yang terpisah bertahun-tahun hanya karena pertengkaran kecil yang sepele. Karena ego yang masuk dan kata-kata yang melukai, mereka kehilangan waktu yang sangat berharga. Mereka baru menyadari kerugian besar itu ketika salah satu dari mereka jatuh sakit. Sebuah kalimat yang menusuk hati terucap, "Kita kehilangan terlalu banyak waktu hanya karena kita tidak mau saling mengasihi."
Dunia hari ini sedang menderita luka yang sama. Negara melawan negara, ego melawan kasih, hingga akhirnya kedamaian itu hilang. Namun, pesan Sabtu Sunyi mengingatkan kita bahwa dalam keheningan yang paling dalam sekalipun, Tuhan sebenarnya sedang bekerja. Kasih Tuhan tidak berhenti di kayu salib; Ia sedang mempersiapkan sebuah kebangkitan.
Jika hari ini hatimu penuh dengan kemarahan pada diri sendiri, atau penyesalan yang mendalam, dengarkanlah ini: Kalau Tuhan sudah mengasihimu, mengapa kamu masih menolak berdamai dengan dirimu sendiri? Berdamai dengan diri sendiri adalah langkah awal menuju perdamaian yang sesungguhnya.
Begitu juga dengan luka terhadap sesama. Kebencian adalah beban yang sangat mahal harganya. Ia menguras energi, menghancurkan hati, dan merampas damai sejahtera kita. Kita mungkin berpikir sedang menghukum orang lain dengan tidak memberi ampun, padahal sebenarnya kita sedang menyiksa dan mengikat diri kita sendiri.
Yesus tidak memberikan strategi yang rumit sebelum Ia pergi. Ia hanya meninggalkan satu perintah sederhana namun kuat: “Kasihilah.”
Dunia tidak butuh lebih banyak argumen atau teori perdamaian yang hebat. Dunia hanya butuh lebih banyak kasih. Sabtu Sunyi bukanlah akhir dari cerita hidupmu, melainkan sebuah jeda sebelum fajar kebangkitan menyingsing. Kebangkitan itu harus dimulai dari satu keputusan sederhana di dalam hati kita hari ini:
“Aku memilih untuk mengasihi.”
Mari kita masuk dalam keheningan sejenak. Pejamkan mata, tarik napas dalam, dan tanyakan pada hatimu yang paling dalam: Siapa yang perlu aku ampuni hari ini? Luka mana yang masih aku simpan?
Diambil dari khotbah Sabtu Sunyi: https://www.youtube.com/watch?v=DpldHMtjdEw
Tags
Diskusi
Komentar